Skip to main content

Life is never flat (part 2)

Anggep aja ini tulisan orang yg lagi baper. Mungkin ini masa masanya segalanya bisa dibaperin. (Duh duh)

Based on terminology, baper adalah bawa perasaan. Maksudnya semua kudu pake hati. Bentar bentar pake hati. Kadang kalo hati dibiarin aja tanpa logika, ya kandas jg.

What the mean? Artinya dalam hidup ini ga semuanya boleh dibiarin pake hati. Ada jg urusan pake otak. Jelasnya sih dengan pikiran yang matang krna konsekuensinya tidak semudah urusan hati. #ehaaak

Contohnya, menentukan sebuah pilihan. Hati akan memberikan solusi yg diinginkan dan dicintainya. Sedangkan otak akan memberikan solusi yg sesuai dengan nalarnya. Bagusnya sih dua duanya dipertimbangkan.

Lebih detil lagi, misalnya setelah menikah ada pilihan dalam hidup ini apakah akan menetap di rumah ortu, tinggal dengan mertua, ngontrak, atau beli rumah baru. Ini pilihan yang sulit kalo kita dihadapkan dengan seperangkat masalah lainnya. Seperti kasus pasangan lagi sakit dan butuh cuti yg lumayan panjang, anak dengan siapa jika suami istri bekerja, kondisi keuangan sedang pas-pasan, pasangan harus dinas diluar kota, pasangan harus menempuh pendidikan di luar negeri, dan lainnya. Itu baru bentuk tunggal faktor internalnya. Belum yg eksternalnya misalnya, rumah ortu tidak cukup luas, ortu tidak suka, beban keuangan ortu berat, ortu juga sakit, ortu butuh bantuan yg sifatnya mengharuskan sesuatu(syarat), mertua dengan kondisi yang sperti itu jg, tidak jg menemukan rumah yg sesuai keuangan, pergaulan dekat rumah tidak harmonis dan sebagainya. (Nah loh)

Solusinya ada pada pertimbangan pikiran yang proporsionil. Benar benar dipikirin gmana plus minus suatu keputusan tersebut. Jangan ngeyel, biasanya klo baper ya pasti ngeyel. (Gini kan bilangnya: "Udaaah gpp itu bisa diatur"). Which is nyepelein banged. Tapi kalo semua harus logis ya pusing juga. Ga ada abisnya mikir. Banyak waktu kebuang dan cenderung otoriter. Ntar kebawa bawa kalo lagi ribut. (Rasanyaa dulu begini bagitu). Pertimbangkan dg matang dan bawa hati turut serta menerima keadaan. (Hmmm, favorite!).

Dengan besar hati, duduk sama sama, pikiran damai antardua insan, problem solved. InsyaaAllah. Pokoknya back to why do you want to live together!

At last,
I wanna continue but maybe with another title.
Semoga bermanfaat ya dear!

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan panggilan Abu, Abi, Buya, dan Abati dalam Bahasa Arab

Bagi orang tua yang baru atau akan memiliki anak, tentu perlu memikirkan panggilan apa yang akan diajarkan kepada anaknya kelak. Panggilan dari anak kepada orang tua pastinya sangat bermakna. Namun di Indonesia panggilan anak kepada orang tua tidaklah rumit dan mempunyai makna umum. Panggilan dari anaknya berarti beliau tersebut merupakan bapak atau ibu dari anak ya ng memanggil. Contohnya: Bapak - Ibu, Ayah - Ibu, Ayah - Bunda, Papa - Mama, Papi - Mami, dll. Karena di Indonesia mayoritas muslim dan Bahasa Arab sangat populer, maka tidak jarang panggilan anak kepada orang tua dibiasakan menggunakan Bahasa Arab seperti Abi - Ummi. Namun banyak penggunaannya digeneralisir menjadi umum seperti layaknya Ayah - Ibu, padahal sejatinya panggilan tersebut adalah bahasa orang yang artinya akan berbeda jika tidak dilandasi ilmu. Berikut sy berupaya memberikan keterangan sekilas tentang perbedaan panggilan anak kepada orang tua dalam Bahasa Arab. Abu اب Untuk menunjukkan penghormatan kepada ...

Recount Text: A Day With Me

Yesterday was quite a nerve-wracking day in my life. It felt like my heart was beating stronger, in intervals that seemed more intense than usual. Honestly, there are often moments like that in my everyday life, but yesterday, the feeling lasted consistently from morning until after the Asr prayer. It had been a long time since I was reminded of my reluctance to take any kind of standardized test (for those who know, they know). Even though I like challenges, I’m not fond of the kind that forces me to chase something overly theoretical. I looked at the exam card and whispered in my heart, bismillah. I began the day with a long and sincere prayer. I made milk for my child and woke him up to pray Fajr at the mosque with my husband. My husband had already gotten up and was doing his early prayers and had started the laundry. I continued with the usual house chores: washing dishes, cooking while tending the laundry, tidying up what I could, packing the children’s lunch boxes, a...

Marwah Pendidikan Di Indonesia

Marwah pendidikan tidak bisa tegak tanpa marwah guru, karena guru adalah pelaku utama dalam sistem pendidikan. Jika guru dijaga kehormatannya, diberdayakan kompetensinya, dan dihormati perannya, maka pendidikan akan lebih bermutu dan bermarwah. Marwah adalah istilah yang berasal dari bahasa Arab yang berarti kehormatan, martabat, atau harga diri. Dalam konteks pendidikan dan keguruan, marwah pendidikan dan guru merujuk pada penjagaan terhadap kehormatan dan martabat dunia pendidikan serta profesi guru. Marwah pendidikan berarti menjaga kehormatan dunia pendidikan sebagai bidang yang suci, mulia, dan berperan strategis dalam membentuk karakter dan masa depan bangsa. Hal ini mencakup nilai moral dan etika dalam proses belajar-mengajar, integritas sistem pendidikan, termasuk kurikulum, evaluasi, dan manajemen sekolah, keadilan dan kesetaraan dalam memberikan akses pendidikan, penghargaan terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Jika marwah pendidikan rendah maka pendidikan ke...