Skip to main content

Posts

Dear my second baby boy,

This was a memento for my newborn baby, written in pekanbaru December 2nd 2018 before he's comin' to the  world . What a lateeeee blog story. 😁 but, it's OK ! (Yang penting ngepost, he he he ✌) Alhamdulillah atas hadirmu di dalam rahim muya, di tengah rasa sendu kehilangan abangmu, ternyata Allah masih percaya pada muya. MasyaaAllah tabarakallah. Akhir tahun 2017, qadarullah muya sangat kalut karena abangmu duluan pulang menuju rumah abadi kita di surga. Tiga bulan setelah itu Allah karuniakan benih baru dari cinta buya dan muya. Bukan tanpa resiko, namun inilah kuasa-Nya. Bahkan sampai hari ini muya terus berdoa agar jangan sampai lepas dari amanah ini.  Muya tidak peduli dengan apa kata miring orang. Terlalu cepat, terlalu dekat, atau lainnya. Yang penting muya harus menjagamu sebisanya semampu muya. Muya tidak peduli harus merasakan hal hal yang tidak nyaman ataupun kehilangan karir untuk saat ini. Muya yakin semuanya itu sesuai untuk membayar rasa bah...

Dear My First Baby Boy,

Setahun yang lalu, aku dilahirkan menjadi ibu Itu karena kau lahir ke dunia yang fana ini, nak Aku menanti tangisanmu Aku berharap genggaman tanganmu Aku berharap kau bergerak walau sedikit saja Aku ingin memelukmu Aku ingin menciummu Aku ingin menggendongmu, menyusuimu, membesarkanmu dengan penuh asa Mendidikmu dengan ketulusan Yang sudah kutanam sejak kau tumbuh dalam diriku Namun aku terlalu bodoh untuk memahami bahwa takdir itu sulit dimengerti Kadang aku sadar kadang aku tak peduli Aku merasa banyak rasa yang menyakitkan Tak pernah lebih menyakitkan dari ini Kehadiranmu tanpa tangisan merupakan beban bagi jiwaku Kehadiranmu tanpa bisa ku miliki disini, disisiku Tiap pagi aku berharap semua hanya mimpi Tiap malam aku menyesal dalam batin Tiap hari aku berusaha untuk menatap waktu Yang kian membiru bersamamu Lalu menghitam menuai kekelaman Untung aku masih ada sejuput iman di dada Jadi aku lewati perasaan dengan doa Pada Dia Yang Maha Kuasa Pada JanjiNya Yang...

Kisah Orang Shalih 'Abu Qilabah'

Suatu hari saya membaca sebuah kiriman di grup whatsapp. Tentang Kisah Seseorang Yang Shalih Bernama Abu Qilabah. Dan ini sangat menyentuh hati saya. Saya berniat membagikan ini agar kita sama sama dapat memetik hikmahnya.. Abu Ibrahim bercerita: Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas… kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yg duduk di atas tanah dengan sangat tenang… Ternyata orang ini kedua tangannya buntung… matanya buta… dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat.. Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut: الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى ك...

Karir atau Keluarga (Bag.2)

Hello bloggers,  Pakabar yang udah lama ga ngeblog? Lama banget ngumpulin semangat buat nulis. Akhirnya tiba-tiba dapet aja ilham dari langit. Berhubung temanya tentang "karir atau keluarga?" pastinya yang ditunggu-tunggu seputaran kenapa ya? Terusss pengalaman apa ya yang mau di share or to be underlined, gitu?!  Ya ga? Nah, langsung cus aja ya, melanjutkan kisah pilihan hidup saya saat ini. Tentu saja sudah ga galau lagi pilih karir atau keluarga. Saya akan jawab keluarga. Sebenarnya kalo dipikir-pikir semua wanita berkeluarga apalagi yang sudah beranak, pasti jika ditanya prioritasnya keluarga. Hanya saja mereka mungkin merasa ada beban lain selain itu. Dengan mengesampingkan alasan personal tiap orang, saya akan menjelaskan alasan saya secara pribadi mengapa saat ini memilih untuk off bekerja, meninggalkan jenjang karir (eciee) dan fokus untuk keluarga. (Soswiidd ^^v) 1. Alasan kesehatan Saya merasa lebih sehat secara fisik dan psikologis jika saya di rumah dan fok...

Jika ingin berkompetisi, jangan salah saingan

Naluri berkompetisi itu manusiawi. Makanya pada kitab pedoman hidup kita diperintahkan untuk berlomba-lomba diantara manusia. Tapi manusia kerap lupa untuk apa dan apa yang harus didapatkan dari perlombaannya tersebut. Kalo bukan utk hal yg disebut al-quran ini, siap-siaplah kita lelah dan semuanya sia-sia. 🌾 سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِ...

Life is never flat (part 2)

Anggep aja ini tulisan orang yg lagi baper. Mungkin ini masa masanya segalanya bisa dibaperin. (Duh duh) Based on terminology, baper adalah bawa perasaan. Maksudnya semua kudu pake hati. Bentar bentar pake hati. Kadang kalo hati dibiarin aja tanpa logika, ya kandas jg. What the mean? Artinya dalam hidup ini ga semuanya boleh dibiarin pake hati. Ada jg urusan pake otak. Jelasnya sih dengan pikiran yang matang krna konsekuensinya tidak semudah urusan hati. #ehaaak Contohnya, menentukan sebuah pilihan. Hati akan memberikan solusi yg diinginkan dan dicintainya. Sedangkan otak akan memberikan solusi yg sesuai dengan nalarnya. Bagusnya sih dua duanya dipertimbangkan. Lebih detil lagi, misalnya setelah menikah ada pilihan dalam hidup ini apakah akan menetap di rumah ortu, tinggal dengan mertua, ngontrak, atau beli rumah baru. Ini pilihan yang sulit kalo kita dihadapkan dengan seperangkat masalah lainnya. Seperti kasus pasangan lagi sakit dan butuh cuti yg lumayan panjang, anak dengan sia...

Karir atau Keluarga? (Bag.1)

There's a time you will confused with this coice. Awal pernikahan mgkn kita bakal blg semua akan berjalan begitu saja. Tidak, itu adalah suatu rencana terburuk dlm pikiran orang yg futuristik. Segala sesuatu butuh perencanaan matang, termasuk pilihan istri untuk lebih mementingkan karir (termasuk pendidikan) atau keluarganya. Kadang pendidikan menuntut kita utk berkarir sesuai dg perkembangan zaman. Kadang karir menuntut kita mengutamakan profesionalitas. Dimana keluarga bisa kita jadikan, spare time. (Kadang classy banget blg kerjaannya sbnrnya fultime mom tp syg cuman tagline, walhasil anak2 ujung2 yg ngurus pengasuh). Mari lebih bijak, sy sudah berpikir ttg hal ini selama bbrp tahun. Sy kira dlu sebelum menikah mgkn kita bisa atur jadwal dan prioritas win-win solution. At least, rupanya seimbang antara karir dan keluarga itu hanyalah omong kosong. Padahal, kesempurnaan wanita itu memang menjadi istri dan ibu seutuhnya. Gimana bisa dia jd istri sementara yg ngurus suaminya org ...