Skip to main content

Karir atau Keluarga? (Bag.1)

There's a time you will confused with this coice. Awal pernikahan mgkn kita bakal blg semua akan berjalan begitu saja. Tidak, itu adalah suatu rencana terburuk dlm pikiran orang yg futuristik. Segala sesuatu butuh perencanaan matang, termasuk pilihan istri untuk lebih mementingkan karir (termasuk pendidikan) atau keluarganya. Kadang pendidikan menuntut kita utk berkarir sesuai dg perkembangan zaman. Kadang karir menuntut kita mengutamakan profesionalitas. Dimana keluarga bisa kita jadikan, spare time. (Kadang classy banget blg kerjaannya sbnrnya fultime mom tp syg cuman tagline, walhasil anak2 ujung2 yg ngurus pengasuh).

Mari lebih bijak, sy sudah berpikir ttg hal ini selama bbrp tahun. Sy kira dlu sebelum menikah mgkn kita bisa atur jadwal dan prioritas win-win solution. At least, rupanya seimbang antara karir dan keluarga itu hanyalah omong kosong. Padahal, kesempurnaan wanita itu memang menjadi istri dan ibu seutuhnya. Gimana bisa dia jd istri sementara yg ngurus suaminya org lain(asisten rumah tangga,mungkin) dan yg sbnrnya ibu (ngasuh anak) adalah orang tua atau babysitter. What a shame!

Look, istri yg memilih lebih mementingkan karir (maaf ya bahasanya straight to the point bngt) yang jelas waktunya sangat terbatas untuk keluarga, akan kehilangan momen dan kebersamaan dg keluarga (termasuk misalnya dia punya usaha online sekalipun). Dan hal itu (menyita waktu utk keluarga)yg tidak akan pernah terulang lagi.

Contohnya: jika setelah melahirkan, ibu harus kembali bekerja, anak tentu harus dititipin sm ortu atau pengasuh. Waktu bertemu anak sngt sebentar (klo libur atau sepulang kerja). Jangan blg bisa quality time saat bertemu drmh (haloo, emg plg kerja ga cape) dan pergi diakhir pekan (yakin?)
. Jangan blg bs mantau anak via cctv atau direct skype deh, emangnya perkembangan anak segitu sedikitnya. Ga mgkn bngt ortu bisa lihat monitor atau layar hp lama lama apalagi kerja yang notabenenya butuh fokus dan strong push dr atasannya. Misal paling kecil ortu usaha online aja, berapa banyak waktu doi lihat layar hp keimbang lihat anaknya, blm lagi checking, packaging, dsb. Kecuali doi tinggal merintah orang aja. (Siapa jg org bersoftskill yg mau diperintah2 tanpa management dan bayaran yg bagus bngt). Sampai hari ini dilema kyk gini emg ga bakal selesai. (Titik).

Sedangkan, jika ibu setelah melahirkan memang dirumah, ga ada tekanan apa apa dr kantor atau tempat kerja. Bebas lepas ngurus anak dan keluarganya. Perhatian, fokus dan waktunya tercurah sepenuhnya. (Harusnya kaann).

Itu baru secuil contoh ya. Masih banyak pertimbangan lainnya yg kudu dipikirin, tetap memilih karir atau keluarga.

InsyaAllah ntar lanjut lg ya..
Semoga bermanfaat dear!

Comments

  1. Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
    Kak nia..
    Ini kus..
    Apa kabar kak..?
    Gak nyangka baca blog kakak.. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh, iya deekk kuss, afwan yakk baru smpt d reply krn baru bisa ol via kompi:D
      Alhamdulillah kk baik dekk, semoga adek sehat selalu yaaa
      senengnyaa bisa ternyata adek baca blog kkak..hehhe..
      mudah2an bermanfaat ya dek..salam semangat :))

      Delete
  2. Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
    Kak nia

    ReplyDelete
  3. Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
    Kak nia

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perbedaan panggilan Abu, Abi, Buya, dan Abati dalam Bahasa Arab

Bagi orang tua yang baru atau akan memiliki anak, tentu perlu memikirkan panggilan apa yang akan diajarkan kepada anaknya kelak. Panggilan dari anak kepada orang tua pastinya sangat bermakna. Namun di Indonesia panggilan anak kepada orang tua tidaklah rumit dan mempunyai makna umum. Panggilan dari anaknya berarti beliau tersebut merupakan bapak atau ibu dari anak ya ng memanggil. Contohnya: Bapak - Ibu, Ayah - Ibu, Ayah - Bunda, Papa - Mama, Papi - Mami, dll. Karena di Indonesia mayoritas muslim dan Bahasa Arab sangat populer, maka tidak jarang panggilan anak kepada orang tua dibiasakan menggunakan Bahasa Arab seperti Abi - Ummi. Namun banyak penggunaannya digeneralisir menjadi umum seperti layaknya Ayah - Ibu, padahal sejatinya panggilan tersebut adalah bahasa orang yang artinya akan berbeda jika tidak dilandasi ilmu. Berikut sy berupaya memberikan keterangan sekilas tentang perbedaan panggilan anak kepada orang tua dalam Bahasa Arab. Abu اب Untuk menunjukkan penghormatan kepada ...

Pengalaman Bekam Sembuhkan Sakit Kepala

Bekam atau hijamah merupakan salah satu pengobatan yang dianjurkan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam. Caranya yakni dengan menyayat atau menusukkan jarum ke kulit dan setelah itu ada cup penyedot sehingga darah kotor yang mengandung racun keluar. Beberapa waktu lalu saya dan kakak ipar melakukan bekam. Seorang akhwat yang merupakan teman pengajian kami yang menjadi terapis bekamnya. Disini saya akan menceritakan pengalaman tersebut dan bagaimana tubuh saya rasakan saat bekam. Singkat cerita saya sering sakit kepala dan lumayan sering migrain di sebelah kanan. Pengobatan secara kedokteran sudah dilakukan sampai masuk ruang radiologi untuk CT Scan dan MRI dijalani. Hasilnya alhamdulillah tidak terlalu serius. Hanya ada swelling hemishper cerebri kanan dan sinusitis. Saya teringat untuk bekam agar bisa sembuh dan memiliki kesehatan lebih baik lagi. Sedikit menyesal karena terkesan agak lambat menyadari bahwa bekam yang merupakan sunnah untuk ikhtiar sembuh dari berbagai penyakit mal...

Recount Text: A Day With Me

Yesterday was quite a nerve-wracking day in my life. It felt like my heart was beating stronger, in intervals that seemed more intense than usual. Honestly, there are often moments like that in my everyday life, but yesterday, the feeling lasted consistently from morning until after the Asr prayer. It had been a long time since I was reminded of my reluctance to take any kind of standardized test (for those who know, they know). Even though I like challenges, I’m not fond of the kind that forces me to chase something overly theoretical. I looked at the exam card and whispered in my heart, bismillah. I began the day with a long and sincere prayer. I made milk for my child and woke him up to pray Fajr at the mosque with my husband. My husband had already gotten up and was doing his early prayers and had started the laundry. I continued with the usual house chores: washing dishes, cooking while tending the laundry, tidying up what I could, packing the children’s lunch boxes, a...